rss

Kamis, 06 Desember 2012

Modal Rp5 Juta, Aditya Ciptakan Teknologi Seharga Rp75 Juta

JAKARTA - Perkembangan dunia teknologi mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi. Sayangnya, kecanggihan peralatan teknologi tidak dapat dirasakan secara merata sebab harga jual yang dibanderol produsen pun sangat tinggi. Berangkat dari pertimbangan tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Raden Aditya Brahmana menciptakan sebuah teknologi di bidang informasi. Bersama kedua rekannya, yakni Farras Kinan dan Adiwidia Karyono P, mereka mengembangkan komputer berbentuk meja dengan layar touchscreen. 

Karya yang diberi nama Surface Table itu berhasil memenangkan medali perak pada Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik) pada Oktober lalu. Aditya bercerita, ide pembuatan Surface Table dimulai pada awal Februari 2012. Saat itu, dia bersama seorang temannya tengah menonton sebuah video mengenai produk komputer berbentuk meja dari Microsoft. Sebagai penggemar dunia IT, dia merasa ingin memiliki produk tersebut. Namun, Aditya merasa, harga jual produk ini terlalu tinggi untuk ukuran kantong mahasiswa. Untuk setiap unitnya, produk ini dibanderol dengan harga USD8.000 atau sekira Rp75 juta. Padahal, menurut mahasiswa jurusan Teknik Informatika itu, produk tersebut bisa dijual dengan harga yang jauh lebih murah. Bahkan, lanjut Aditya, dia mendapat tantangan dari temannya untuk mengembangkan produk serupa dengan imbalan Rp10 juta jika berhasil. Merasa diberi tantangan, mahasiswa asal Jakarta ini serta-merta menerima peluang tersebut. "Awalnya tidak yakin juga bisa membuat produk ini," kata Aditya, seperti dikutip dari ITS Online, Senin (3/12/2012). Selang enam bulan berlalu, Aditya berhasil mengejutkan temannya dengan menciptakan Surface Table hanya dengan modal Rp5 juta. "Tentu saja dia belum menyiapkan uang taruhan kami karena yakin saya tidak bisa membuat Surface Table ini," paparnya sembari tersenyum. Namun, pengembangan produk ini tidak selamanya berjalan mulus. Beberapa kendala dialami Aditya dan kawan-kawan dalam proses produksi Surface Table, seperti masalah dana dan ketersediaan komponen-komponen elektronik. Untungnya, sebagai tambahan modal, dia mendapat pinjaman sebesar Rp3 juta dari seorang teman. "Sisanya dari tabungan saya sendiri," ujarnya Aditya. Pemuda kelahiran 9 November itu menyebutkan, keikutsertaannya dalam Gemastik V hanya dilakukan dengan alasan iseng. Maka, dia mengajak kedua rekannya untuk ikut merapikan Surface Table agar layak dilombakan. Adiwidia Karyono bertanggung jawab sebagai system analyst yang bertugas mencari masalah dan bug dari produk. Sedangkan Farras Kinan membuat video dan desain alat. "Kami adalah tim yang solid. Farras dan Adi bekerja hebat," urainya.


Saat perlombaan, Surface Table sempat mengalami kerusakan. Sensor optik yang menjadi salah satu komponen penting dari alat mengalami kerusakan. Mereka bertiga pun panik karena sensor optik yang digunakan pada Surface Table tidak dijual di Indonesia. "Kami berhasil menemukan sensor optik yang hampir sama setelah keliling kota Bandung, tapi sayangnya tidak bekerja dengan maksimal," papar Aditya. Menurut mahasiswa peraih juara dua dalam e-Learning International Contest of Outstanding New ages (e-ICON) World Contest itu, Surface Table akan menjadi teknologi yang revolusioner. Sebab, katanya, komputer masa depan akan selalu terintegrasi dengan peralatan lain seperti cermin, meja atau lemari pendingin. "Bayangkan saja bila seorang arsitek bisa memanipulasi objek yang didesainya hanya dengan menggunakan tangan di atas permukaan komputer touchscreen di permukaan meja," tuturnya. Saat ini, Aditya tengah berusaha untuk kembali memperbaiki produknya. Dia ingin mendesain Surface Table dengan desain yang cantik dan elegan sehingga, konsumen tidak akan ragu lagi untuk menggunakan produk ini. "Saya bercita-cita untuk mengkomersilkan alat ini," imbuh pembaca setia majalah IT Popular Mechanic itu.(rfa)

(Sumber)
Bagikan

0 comments:


Posting Komentar

SAHABAT@1NDOTECH

1NDOTECH BLOG LIST

alexa