rss

Rabu, 04 Juli 2012

Alat Deteksi Gempa Sederhana dari UNY

JAKARTA - Saat ini, telah banyak alat deteksi gempa mulai dari yang sederhana hingga sangat canggih. Namun, tiga mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berupaya menciptakan pendeteksi gempa sederhana yang mampu dibuat secara mandiri oleh masyarakat. Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karya Cipta (PKM-KC) UNY ini beranggotakan Asep Abdul Syukur (Pendidikan Fisika), serta Rahmat Hidayat dan Muh Nana Aviciena (Pendidikan Teknik Elektronika). 

Tiga sekawan ini berhasil membuat Early Earthquake Warning System sebagai alat peringatan gempa dini sederhana berbasis mikrokontroler atmega8 dengan output suara (sirine).
Asep menyebutkan, di era sekarang ini sudah ada beberapa alat pendeteksi gempa bumi yang diciptakan. "Namun, dalam pembuatannya membutuhkan dana yang tidak sedikit bahkan membutuhkan waktu serta pengujian yang lama. Di samping itu, tidak semua orang bisa membuatnya karena memerlukan keahlian khusus," ujar Asep, seperti dinukil dari situs UNY, Rabu (4/7/2012).

 

 Dengan kata lain, pembuatan alat tersebut cukup rumit. Maka, lanjut Asep, diperlukan alat pendeteksi gempa bumi sederhana yang dapat dibuat oleh masyarakat secara mandiri dan dapat berfungsi secara efektif. Alasan itulah yang memotivasi mereka menciptakan alat deteksi gempa sederhana yang efisien dan efektif. Early Earthquake Warning System dibuat dari barang-barang sederhana yang tersedia di pasaran secara luas sehingga masyarakat dapat mendapatkannya dengan mudah. Pembuatannya pun cukup mudah karena menerapkan sistem rangkaian listrik tertutup. "Artinya, tidak menerapkan sistem rangkaian atau instalasi listrik yang rumit. Peralatan yang dipergunakan yaitu pegas, karet paralon, pipa besi, tiang alumunium, toa atau speaker, accu, modulo bunyi, dan sebagainya," tuturnya. Dia menjelaskan, karakteristik kerja dari alat ini menerapkan prinsip hukum Hooke, yaitu getaran yang terjadi pada suatu pegas. Selain itu, inti dari alat ini pun tidak sulit untuk dibuat dan dicari, karena hanya membutuhkan pegas yang bagus.

 "Pada saat terjadi getaran, pegas itu akan bergerak dan menyalakan sakelar sirine yang telah diatur pada rangkaian listriknya. Dengan demikian, masyarakat dapat membuat alat pendeteksi dan peringatan gempa bumi ini dengan mandiri dan alat ini bisa menjadi alternatif," tukasnya. Rahmat menambahkan, Early Earthquake Warning System dapat dibangun dengan perangkat keras (hardware) sistem minimum ATmega8 sebagai input atau output, maupun timer, serta satu push button yang digunakan sebagai tombol reset data. Untuk mekanik sensor yang dirancang dengan sistem pegas berbeban sebagai sakelar elektronik, sementara sistem driver modul sirine menggunakan model relay SPDT dan penggunaan catu daya dengan model aki yang dapat dideteksi status keadaan baterainya. “Perangkat lunak (software) yang digunakan dalam sistem ini menggunakan compiler CodeVisionAVR dengan pemrograman dengan bahasa C.

Program ini telah berhasil mendeteksi setiap getaran yang dihasilkan pada sistem sensor, tampilan pada LCD dan push button sebagai tombol pengatur menu,” ujar Rahmat. Early Earthquake Warning System dapat mendeteksi getaran gempa yang ada di dalam tanah dengan menggunakan kerja pegas berbeban sebagai saklar elektronik. Selanjutnya, modul sirine akan mengeluarkan output berupa suara dan lampu yang akan bekerja saat terjadi gempa selama dua jam sesuai standar yang ada. "Setelah dilakukan kalibrasi di simulasi rumahan gempa Taman Pintar Yogyakarta dengan skala 4 richter, frekuensi gempa yang dapat terdeteksi pada alat ini adalah 12 Hz," imbuhnya.(mrg)(rhs)

(Sumber)
Bagikan

0 comments:


Posting Komentar

SAHABAT@1NDOTECH

1NDOTECH BLOG LIST

alexa